Minggu, 13 September 2015

Chap.1 Immortal Story: The Aphrodite's daughter






Chapter 2 
 

*****
Los Angeles, California
***** 

Kate Selena Smith, seorang gadis cantik dengan bentuk wajah kecil bulat, kening tipis berwarna coklat kehitaman, mata hazel yang didapatkan dari ayahnya dipercantik dengan bulu mata yang lentik menghiasi kelopak mata bulat nan indah, bentuk bibir yang tipis kecil dilengkapi dengan lesung pipi yang selalu terlihat jelas pada kedua pipi saat dia menampilkan senyum diwajahnya. Tubuh yang tinggi langsing dengan warna kulit kuning langsat. Kecantikkan yang dimilikinya dilengkapi dengan rambut lurus bergelombang berwarna mahogani sebagai mahkota yang sangat dia banggakan. Seorang gadis yang nyaris sempurna. Sayangnya kecantikkan yang dia miliki hanya kecantikkan fisik. Kate bukan gadis yang anggun, bukan gadis yang lembut. Banyak lelaki yang jatuh cinta padanya, tapi selalu dia tolak mentah-mentah. Tapi masih saja ada satu orang lelaki yang selalu berada disampingnya. Iya, selalu. 

Kate adalah anak Hendry Smith, yang bekerja sebagai pengacara. Kate dan Hendry hanya tinggal berdua dirumah mereka. 

*** 

Smith's House 

Hari itu cerah. Langit biru yang bersinar cerah dengan awan putih tanpa setitik noda yang menodainya. Lukisan karya Sang Maha Pencipta yang sangat indah. 

"Kate," panggil Hendry dari dapur dilantai satu rumah mereka. Hendry tengah sibuk memanggang roti dan ketika sudah terpanggang, dia meletakkan dipiring putih bulat bersama dengan telur dan beberapa irisan daging sapi panggang. 

"Kate.. Ini sudah pagi. Bangunlah atau kau akan terlambat kuliah!" teriak Hendry dari ujung tangga yang mengarah kelantai dua. 

Suara berisik Hendry membuat Kate menelungkupkan badannya dengan bantal yang menutupi kedua telinganya. Sia-sia!

"Oh dad!" Kate berteriak kesal dari dalam kamarnya. Mendengar teriakan kesal putri sematawayangnya itu, Hendry hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. 

Berselang beberapa menit, Kate telah tiba didapur sambil menguap dia berjalan mendapati meja makan dan duduk menempati salah satu kursi. Kate hanya menggunakan baju kemeja putih berlengan panjang dan tampak besar dari tubuhnya -- bukan kemeja lelaki, dengan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjang miliknya yang panjang celana hampir sama panjang dengan kemeja besar yang dia kenakan. Tanpa mencuci wajah dari tidur semalam. 

Melihat putrinya itu, Hendry hanya kembali menggeleng dan meletakkan dua buah piring berisi sarapan pagi diatas meja, satu untuk Kate dan satu untuknya. 

"Kate, kalau kau seperti ini mana ada pria yang mau denganmu?" tanya Hendry dengan nada menggoda putrinya. 

"Ada dad.. banyak," jawab Kate sambil menikmati sarapan yang dibuat oleh ayahnya. 

"Ya banyak, tapi kau tolak mereka semua bukan?" tanya Hendry sambil terkekeh kecil, "Tidak akan ada pria yang mau mengejarmu lagi." 

"Ada!" Kate yang menghentikan aktivitas makan kemudian berseru lalu kembali mencoba mengingat berapa banyak pria yang masih mengejarnya, "Tiga.. Ah tidak, dua. Ah.. mungkin --" 

"-- hanya satu," Hendry melanjutkan kalimat putrinya, "Dan pria itu hanya Sam Walcott." 

Kate mendesah kesal mendengar ayahnya tahu. Tentu saja Hendry tahu. Hendry adalah ayahnya, bukan? Menepis kebenaran bahwa Hendry adalah ayahnya, siapapun yang melihat Sam Walcott pasti akan tahu kalau hanya satu wanita yang selama ini sering diikuti kemanapun oleh Sam Walcott. Wanita itu adalah Kate. Mereka berdua telah bersahabat sejak masih kanak-kanak. 

"Dad please.. Jangan menyebut namanya dihadapanku," pinta Kate dengan nada memaksa. Membuat Hendry terkekeh dan melanjutkan aktivitas dimulutnya. 

"Aku akan buktikan padamu kalau aku bisa terpisah jauh dari si Walcott berkacamata itu!" ketus Kate, membuat Hendry mengedikkan bahu dan berakhir dengan Kate memutar kedua bola matanya seolah tak percaya ayahnya terlihat sangat menyukai Sam, pria yang selalu disampingnya tapi pria yang selalu membuatnya jenuh bahkan sesekali merasa hampir muak jika mendengarnya bercerita tentang makhluk immortal dari buku-buku yang dibacanya. 

*** 

"Jadi ini Los Angeles? Hm.. Biasa saja, tidak ada bedanya dengan belahan dunia lain yang telah kukunjungi," ucap seorang pria berbaju putih dibalut jas biru dari luar dengan celana berwarna senada. 

Pria bertubuh tinggi dan besar dengan dada bidang, kulitnya yang putih pucat dengan rambut hitam miliknya, dan mata coklat kehitaman miliknya membuat beberapa pasang mata wanita menoleh kearahnya yang berdiri didepan taman kota. Tampan, ya.. Sungguh tampan. Pria itu adalah Taylor Korsakov -- pangeran Vampire yang meninggalkan istana Vamplides selama 17 tahun demi mencari seorang anak yang bahkan belum dia ketahui keberadaannya. 

Taylor berjalan menelusuri jalan setapak taman dimana dia berharap bisa menemukan anak itu. Selain itu dia berharap semoga tidak menemukan banyak makhluk immortal lain disini dan semoga belum ada yang menemukan anak itu sebelum dirinya. 

Hari sudah semakin panas. Matahari semakin meninggi. Kulitnya yang putih pucat tampak memerah.
Oh tidak, dia tidak terbakar. 

Dia adalah Vampire dari kelas Alphire -- kelas para bangsawan Vampire. Selain memiliki kekuatan khusus kekuatan bangsawan Vampire, setiap Vampire bangsawan memiliki cincin yang terbuat dari panasnya matahari dan dinginnya bulan sehingga memungkinkan mereka untuk berjalan dibawah sinar matahari. Hanya saja matahari yang membuat kulit putih pucat miliknya memerah adalah hal yang alamiah bagi seorang Vampire, terutama manusia yang mempunyai kulit putih. 

Taylor berdecak kesal ketika tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang. 

"Ada apa?" tanya Taylor dengan kening terangkat keatas dengan badan yang sudah saling berhadapan.

Seorang gadis cantik tengah berdiri dibelakangnya. Ekspresi wajah gadis itu tak kalah kesal dari ekspresi Taylor.

"Ada apa?" gadis itu balas bertanya, "Permisi Tuan menyebalkan! Kau menghalangi jalanku!" ketus gadis itu. 

"Menghalangi jalan? Kau tak bisa melihat jalan ini begitu luas?" tanya Taylor dengan dahi berkerut, "Bahkan dengan tubuh kecilmu, kau bisa melewati sisi lain dari jalan ini!" kata Taylor datar setelah menyelidik dari rambut sampai kaki gadis dihadapannya. 

Gadis cantik itu berkacak pinggang, "Hey kau Tuan menyebalkan, bisakah kau lihat jalan disebelahmu itu sedang diperbaiki? dan kau berdiri ditengah jalan yang harusnya bisa kulewati!" 

Taylor menolehkan kepalanya melihat jalan disebelah dengan tanda larangan tidak boleh dilewati. Dalam hati Taylor bersungut kesal. Bagaimana bisa dia tidak melihat jalan itu sebelumnya. Pikirannya terlalu fokus mencari anak itu, -- anak yang bahkan dia belum tahu seperti apa wajahnya hanya sebuah tanda yang akan membuktikan siapa anak itu.

Tanda? Ah, ya! Tanda.. Kenapa aku bisa melupakannya, pikir Taylor. 

"Hey!" teriak gadis itu. 

"Lewatlah," ucap Taylor sambil membuka akses jalan bagi gadis itu lewat, namun Taylor tak menatap gadis itu tapi malah memegang dagunya dengan sebelah tangannya dan tangan yang lain menahan siku tangan yang sedang memegang dagu. 

Melihat itu gadis itu memutar bola matanya. Meski masih kesal dengan tingkah Taylor, gadis itu akhirnya pergi juga. 

*** 

Universitty of California

Kate berjalan melewat koridor gedung kampus. Beberapa pasang mata pria melihatnya, beberapa pria menyapanya, beberapa memberikan bunga bahkan kotak hadiah padanya tapi dia malah tidak peduli. Pertama masalah bunga, Kate akan mengambilnya dan menciumnya sesaat membuat pria yang memberi tersenyum bahagia, namun kemudian Kate akan membuangnya kedalam tong sampah. Kedua masalah sapaan, Kate hanya akan menatap sekilas sebelum berjalan melewati. Ketiga masalah kotak hadiah, Kate akan mengambilnya kemudian dia akan memberikan kepada siapapun saat melewati mereka. Such as a bad girl! 

"Hey nona," sapa sesosok pria tampan dengan baju basket berwarna merah dengan nomor punggung 12. Pria yang tak lain adalah James Parker. 

James Parker adalah pria kaya dan tampan yang terkenal playboy. Salah satu pria yang memiliki banyak wanita cantik dan sexy disampingnya. Salah satu pria yang selalu menggoda Kate untuk berpacaran dengannya. Salah satu pria yang paling dibenci Kate. Bahkan sebenci-bencinya Kate pada Sam, masih lebih besar rasa bencinya pada James yang menurut Kate, dia terlalu over menunjukkan ketampanannya yang bahkan tak ada apa-apanya dibanding Hendry, ayahnya sendiri. Ya, dalam hati Kate selalu mengagumi ayahnya -- pria separuh baya, yang bahkan meski diumurnya yang sudah 44 tahun masih terlihat tampan. 

"James Parker menyingkirlah dari jalanku," kata Kate dengan nada tegas. 

Tapi diabaikan oleh James. Justru James merangkuh tubuh Kate lebih dekat dengannya dan tampak bersemangat melihat betapa seksinya tubuh Kate dibalik baju berkain levis biru berlengan setengah yang tampak kebesaran dari tubuh kecilnya dengan kancingan yang tidak semua ditutup sehingga menampilkan sedikit belahan dada milik gadis cantik itu. 

"Awesome!" ucap James takjub saat ia menatap lekat-lekat belahan dada dan leher jenjang milik Kate sekalipun sedikit terhalau uraian rambut bergelombang mahogani milik Kate. Mata James terperangah sesaat saat mendapati sesuatu dipunggung dekat leher jenjang Kate. James bersiul, tak berhenti mengagumi pesona gadis cantik dihadapannya ini. 

"James singkirkan tanganmu dariku!" bentak Kate, namun sekali lagi diabaikan oleh James. Pria itu malah seenaknya mengarahkan tangannya menggapai punggung Kate demi melihat sesuatu yang jelas tadi bersinar. 

"James Parker!" Suara teriakan dari kejauhan membuat James mengerang kesal sebelum menolehkan kepalanya pada pemilik suara, Sam Walcott. 

James melepaskan rengkuhan kedua tangannya dari tubuh Kate dan membalikkan badannya menatap Sam Walcott yang dengan langkah cepat berjalan mendekati James dan teman-temannya.

"Uh.. Ternyata anak mama ada disini," ledek James sambil saling memandang dengan teman-temannya dan tertawa. 

"Jangan ganggu Kate!" ucap Sam dengan lantang meskipun sedikit terdengar parau. 

James terkekeh dan mengukir senyum miring dibibir tipis miliknya, "Memangnya kenapa?" sambil merengkuh kerak baju Sam disambut tawa kecil teman-teman James. 

"Menyingkirlah da-da-ri Kate," ucap Sam terbata-bata saat James semakin merengkuh kuat kerak baju Sam. 

"Brengsek!" James tersenyum sinis dan langsung melayangkan sebuah tinju pada pipi Sam, mengakibatkan Sam jatuh kelantai. 

Berpapasan dengan itu, Mr O'connell lewat. "Mr Parker!" teriak Mr O'connell dari tangga dekat koridor tempat mereka berada. James langsung tertunduk dengan kesal melihat tatapan Mr O'connell seolah siap menerkamnya melihat kejadian itu. 

"Mr Parker ikut saya ke ruangan! Kamu juga Mr Walcott," perintah Mr O'connell dan langsung berjalan menuju ruangannya, disusul kesal oleh James. 

Kate membantu Sam berdiri. Jauh dihatinya, dia merasa bersalah pada Sam karena mendapat pukulan dari James. Sekalipun dia membenci Sam karena pria itu selalu mengusiknya dengan kisah-kisah immortal, tetap saja Sam Walcott adalah sahabatnya sejak kecil. 

Melihat tatapan Kate tampak khawatir, Sam malah tersenyum dan menahan tangan Kate dengan anggukkan kecil seolah mengatakan aku baik-baik saja -- meski ada darah disimpul bibir Sam akibat tinju James. 

==_oOo_==

 
*****
Gua Gorgon
***** 

Desisan ular hitam berbisa dari kepala Stheno, yang sedang berbaring ditempat tidur. 

"Kak!" seru Euriale yang tiba-tiba berlari secara cepat kedalam kamar gua Stheno. 

Ular hitam berbisa dikepala Stheno secara cepat bergerak kearah datangnya Euriale dengan garang sambil berdesis. 

Melihat desisan ular hitam dikepala Stheno, tak mau kalah ular merah berbisa dikepala Euriale juga mengarah pada ular hitam Stheno dengan garang. 

"Oh slow down baby, jangan bertengkar. Aku hanya ingin berbicara dengan kakakku," ucap Euriale membuat kedua ular berbisa itu menjadi tenang. 

"Ada apa?" tanya Stheno sambil membuka matanya sejenak. 

"Kak, kau tidak merasakan Gua Gorgon ini bergetar dengan kuat?" tanya Euriale. 

"Aku merasakannya. Lalu?" jawab Stheno datar sambil memberi makan kepingan tubuh manusia untuk dimakan ular hitam miliknya. 

"Kehadiran anak itu akhirnya terasa juga," kata Euriale. 

"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia masih 17 tahun. Tanpa kita membunuhnya, makluk immortal lain sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya," kata Stheno sambil tertawa. 

Euriale tersenyum puas mendengar kata-kata kakaknya. Mata terang Euriale menangkap dua sosok manusia yang sedang menatap mereka dengan ketakutan. Timbul ide nakal darinya. 

Hiks.. Hiks.. Hiks.. suara tangisan pelan Euriale membuat dua manusia yang masih hidup -- yang berada dalam kamar gua Stheno, menutup telinganya menahan sakit akibat tangisan Euriale. Dari telinga keduanya keluar darah yang mengalir. 

"Euriale, berhentilah menyiksa makan siangku!" seru Stheno yang kini sudah bangun dari tidurnya. 

Euriale tertawa kecil dan menatap kembali kakaknya sambil tersenyum nakal, "Baiklah selamat menikmati makan siangmu kakakku tersayang," kata Euriale sambil berlalu tapi langkahnya terhenti dipintu, "Kak.. Medusa tampak masih menangisi batu pria dan adik pria itu, yang kau bunuh sebelum buat jadi batu." 

"Masih beruntung aku membuatnya menjadi batu sebagai kenang-kenangan bagi dia, daripada aku memberikannya menjadi santapan anak-anakku," Stheno tersenyum miring. 

==_oOo_==
 
*****
Los Angeles, California
***** 

Universitty of California 

Kate duduk menunggu Sam di taman samping gedung kampus, dengan khawatir dan rasa bersalah. 

"Hey!" suara Sam dari belakang mengagetkan Kate. 

"Hey.. Kau baik-baik saja? Mr O'connell tidak memarahimu? Kau tidak terluka dibagian yang lain?" Sederetan pertanyaan yang Kate lontarkan. 

Mendengar itu Sam tertawa. "Apakah kau mengkhawatirkanku sekarang?" 

Kate baru tersadar jika ia sudah banyak bertanya. Tidak biasanya dia bertanya dengan khawatir seperti ini pada Sam. 

"Tidak!" jawabnya datar. Kembali kedirinya sendiri, seorang Kate. Namun pergerakkannya terlihat gugup bahkan saat dia mengikat rambut keatas, tangannya bergetar seolah baru pertama kali mereka bersama. 

Dari kejauhan, sesosok tubuh pria yang sedaritadi mengamati mereka dari saat kejadian di koridor sambil tersenyum. Pria itu adalah Taylor Korsakov, "I found you.

-----
August 20th, 20015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar