WITHOUT YOU
- it was nothing -
Chapter 2
"Ini sudah kelima
kalinya Cherlyn mencoba membunuh dirinya, Minho. Tante sudah tidak tahu
harus berbuat apalagi," tutur Evellyn dengan tatapan yang tak sedikitpun
berpaling dari wajah putri sematawayangnya, Cherlyn – yang terbaring di
tempat tidur. Kejadian tadi hampir saja membuatnya kehilangan putrinya
itu. Beruntung Minho tiba disana tepat pada waktunya sehingga berhasil
mencegah Cherlyn menjatuhkan dirinya – seolah dia dapat terbang.
Terlalu depresikah
Cherlyn saat kehilangan lelaki yang dicintainya? Iya, sangat. Bahkan
dalam tidurnya, dia sering bergumam memanggil nama Reza Aditya dan
menangis. Terlalu cintakah Cherlyn pada Reza? Iya terlalu cinta – karena
terlalu cinta, maka membuatnya ingin mati bersamanya.
Bodoh! Cinta yang bodoh.
Cinta yang sering mengesampingkan hal-hal berbau logika. Tapi siapa
bilang seseorang tidak akan terluka saat dia kehilangan orang yang
dicintai? Terluka itu pasti. Bahkan rasanya hampa – ingin mati. Tubuh
yang tak bisa lagi dipeluk, wajah yang tak bisa lagi disentuh, bibir
yang tak bisa lagi dicium, dan tangan yang tak dapat lagi digenggam.
Semua pasti pernah mengalaminya. Hal yang sama terjadi juga pada Cherlyn
Agung Setiadi. Tak ada lagi si Cherlyn gadis periang. Kini tinggal
Cherlyn yang sering mencoba membunuh dirinya sendiri, menghukum dirinya
sendiri, menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Reza Aditya – lelaki
yang dicintainya itu.
"Sabar tante.. Sabar," ucap Minho sambil mengusap bahu Evellyn. Memberi wanita paruh baya itu sedikit kekuatan.
"Minho tolong tante.
Tolong rawat Cherlyn sampai dia sehat. Tolong kembalikan Cherlyn-ku yang
dulu," pinta Evellyn sambil menatap sendu iris mata hitam milik Choi
Minho. Mata wanita paruh baya itu tampak digenangi dengan
kristal-kristal yang hampir siap meluap dari sungainya.
Minho menghela napas pelan kemudian tersenyum. "Iya tante. Apapun akan Minho lakukan demi kesembuhan Cherlyn."
Drrrt... Drrrt... Drrrt... Bunyi getar handphone Minho.
Minho menatap layar handphone digenggaman tangannya dengan tatapan gusar. Sial! Gadis menyebalkan ini lagi, batinnya. Minho memutuskan sambungan telepon. Namun bunyi getar handphone
miliknya, terjadi berulang-ulang dan berasal dari orang yang sama.
Minho berdecak kesal. Gadis yang sama – yang terobsesi padanya sejak 4
tahun terakhir ini dimulai saat mereka bertemu di sebuah acara yang
diselenggarakan Seoul Universitty.
Dengan langkah berat, Minho memutuskan untuk keluar dan menjawab telepon masuk – lebih tepatnya panggilan luar negeri.
"Apa kau tak punya
kerjaan lain selain menelponku?" tanya Minho dengan nada suara yang
datar. Sungguh dia sudah hampir muak dengan gadis ini.
Gadis diseberang telepon
sana terkekeh kecil. "Kau tidak rindu padaku?" Ia kembali bertanya
dengan suara khas miliknya – suara serak basah, yang terdengar sangat
sensual untuk ukuran seorang gadis berparas cantik dan errr...
seksi. Harus Minho akui itu. Tapi daripada membuang rasa malu, ego dan
harga dirinya untuk mengakui kecantikkan dan keseksian sempurna yang
dimiliki gadis diseberang telepon sana, Minho lebih memilih memotong
lidah-lidahnya sendiri jika ia harus mengakuinya.
"Tidak!" elak Minho dengan nada suara datar yang lebih terdengar tegas. Gadis yang terlalu percaya diri, batinnya kesal.
"Tapi aku merindukanmu,"
ungkap gadis diseberang telepon genggam – sambil tersenyum senang,
meski dia tahu Minho tidak melihat senyumannya saat ini.
"Sudah kubilang aku
tidak merindukanmu!" bentak Minho. Dia memutar bola matanya, kesal saat
bentakkannya seakan angin lalu bagi gadis cantik yang tengah terkekeh,
lagi.
"Baiklah. Mungkin kau
tidak merindukanku saat ini. Tapi kau akan merindukanku nanti. Dan akan
kunantikan saat itu," ucap gadis diseberang telepon dengan penuh percaya
diri.
Minho memutar bola matanya, lagi. "Ya! Terserah kamu! Jika tak ada yang ingin kamu bicarakan denganku, aku tutup. Aku sibuk!"
Tuuuth... Tuuuth... Tuuuth... Bunyi sambungan telepon terputus sepihak.
Tampak wajah kekesalan
tingkat para dewa Yunani saat manusia mengabaikannya perintahnya --
maksudnya saat gadis itu terus mengusik hidupnya. Secara jujur, Minho
telah melarang keras gadis cantik itu untuk mengganggu hidupnya. Tapi
sepertinya gadis cantik itu tidak mengindahkan kata-katanya. Membuat
Choi Minho merasa terganggu setiap hari.
"Siapa Minho?" tanya
Evellyn saat mendapati Minho yang berada di ruang tengah dengan
pemandangan tamat buatan dan sebuah kolam ikan ukuran kecil dengan
percikan-percikan air yang menetes dari bebatuan buatan ke air kolam
yang tergenang.
"Cuma orang salah sambung tante Eve." Bohong! Minho jelas-jelas tengah berbohong.
"Oh... Begitu." Evellyn manggut-manggut. "Ayo kita makan. Kamu belum makan bukan?"
Minho manggut-manggut dengan semangat delapan enam. "Iya tante."
"Kita bikin omelet
kesukaanmu saja, bagaimana?" tanya Evellyn sambil berjalan menuruni
tangga lantai dua rumah besar bergaya modern-klasik, diikuti Minho
dibelakangnya.
"Lebih bagus lagi kalau
begitu tante!" seru Minho dengan suasana hati tengah bersemangat – tidak
seperti saat tadi menerima telepon dari gadis disebarang sana. Membuat
Evellyn tersenyum.
=_oOo_=
Seoul, South Korea
Rumah keluarga Kim.
"Kenapa kau selalu
dingin padaku? Padahal aku tahu kau begitu menyukaiku. Hanya saja...
Yah, kau tak ingin mengakuinya bukan? Huh! Dasar pria es sialan!" maki
Kim Hyorin sambil memandangi layar handphone miliknya.
Membuat suara tawa terdengar dari kursi depan meja hias. "Dia lagi?" Suara seorang gadis berambut ombre terdengar ditelinga Kim Hyorin – Hyorin manggut-manggut, mengiyakan.
Gadis berambut ombre tertawa, lagi. "Kau masih saja mengejar pria yang menolakmu mentah-mentah," ledeknya.
"Hey dia tidak menolakku
mentah-mentah. Hanya saja dia belum mau mengakui bahwa dia menyukaiku.
Tepatnya dia belum menolakku!" bantah Hyorin.
Gadis berambut ombre mendengus. "Sama saja!" Ia merebahkan kepalanya di kasur ukuran king size yang terletak di depan jendela kaca besar dengan outview
gedung pencakar langit disekitarnya. Sungguh mahakarya yang indah,
hasil rancangan para arsitektur ternama, baik yang berasal dari Korea
Selatan maupun dari manca negara.
"Tidak, itu tidak sama!"
bantah Hyorin, lagi. "Itu lebih ke—Hey, sedangkan kau saja masih
mengharapkan mantan kekasihmu itu kembali," ucap Hyorin tak mau kalah.
"Kau saja tak tahu dia sedang apa di London, dan bersama siapa. Katanya
gadis-gadis disana terkenal sangat cantik dan errr.. seksi."
Hyorin membalas ledekkan temannya itu – lebih tepatnya sudah seperti
adiknya sendiri, karena usia mereka terpaut tiga tahun. Usia yang sama
yang dimiliki oleh adik tirinya.
Gadis berambut ombre
itu mendesah berat. "Ugh! Kau tidak mengerti perasaanku," sungutnya
kesal. Merasa dirinya diserang balik dengan ledekkan oleh orang yang
awalnya tadi tengah diledeknya.
Hyorin terkekeh. "Maaf deh maaf...," ucapnya sambil memeluk gadis berambut ombre yang terbaring disampingnya.
"Kak bagaimana dengan Jongin? Apa kabarnya ya sekarang ini?" tanya gadis berambut ombre ketika melihat foto keluarga yang terpajang disalah satu dinding kamar milik Hyorin.
"Tak tahulah! Mungkin
tengah bersenang-senang dengan gadis-gadis penggoda seperti biasanya,"
jawab Hyorin asal. Sejujurnya dia pun tak tahu mengenai keadaan adik
tirinya itu. Semenjak Kim Jongin pergi, ia tak pernah sekalipun
menghubunginya. Mereka berdua memang tidak cukup dekat setelah beranjak
dewasa.
=_oOo_=
London, Inggris
Di sebuah kafe yang terletak di 115 Buckingham Palace Road, Caffe Nero – tampak seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam dipadukan dengan T-shirt putih,
celana levis panjang hitam dan sepatu dengan kualitas terbaik di
seluruh dunia, tengah duduk dekat kaca jendela besar yang mengarah ke
jalan sembari menikmati secangkir Cappucino de Nero – salah satu minuman yang paling banyak diminati para kaum adam di kota London jika mereka berkunjung ke daerah ini.
Caffe Nero adalah salah satu kafe yang terkenal di seluruh penjuru kota London karena minuman dan makanan ala breakfast
yang sangat lezat, dibuat oleh para koki handal dalam menyajikan menu
yang teramat sangat membuat orang ketagihan jika sudah sekali
mencicipinya, akan datang kembali untuk mencicipinya.
"Hey darling," bisik seorang gadis berambut blonde pada telinga pria itu sembari mengecup pipinya. Pria itu hanya diam tak bereaksi.
Gadis berambut blonde mengambil tempat duduk tepat di depan pria muda itu, kemudian memanggil seorang pelayan kafe.
"Selamat datang pelanggan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan pria dengan ramah.
"Aku pesan satu Hot chocolate dan Chocolate cake," kata gadis berambut blonde yang tengah membaca menu list dalam sebuah buku dengan panjang 30 cm dan lebar 15 cm.
"Baik. Akan segera kami
sajikan dalam 5 menit," ucap pelayan pria itu sembari menyudahi catatan
pesanan dari gadis itu. Lalu ia menuju Nero's caffe bar – tempat pemesanan dari pelanggan disampaikan ke Nero's pantry.
"Maaf aku membuatmu menunggu," ucap gadis berambut blonde itu sambil menyentuh tanggan besar milik pria dihadapannya. "Tadi aku masih punya sesi pemotretan majalah."
Pria itu masih tak
bereaksi. Bahkan tak ada senyum dibibirnya. Semenit, dua menit bahkan
sampai lima menit kemudian pria itu masih tak bereaksi padanya. Marah
kah?
"Ini pesanannya nona," ucap pelayan pria itu sembari meletakkan secangkir Hot chocolate dan sepiring Chocolate cake yang tampak lezat bahkan dengan hanya melihatnya saja.
Gadis berambut blonde itu mulai melepaskan pegangan tangannya dan mendongak menatap pelayan pria itu sambil tersenyum. "Thank you."
Dibalas dengan senyuman dan tundukkan kepala dari pelayan pria itu
sebelum berlalu dari meja yang ditempati sepasang kekasih itu.
"Apa kau marah padaku?" tanya gadis berambut blonde itu. "Aku kan sudah minta maaf. Aku ben--."
"Kim Jongin!" seru
seorang pria dengan rambut berwarna hitam yang baru datang di kafe
sembari tangan kanannya, ia gunakan untuk dilingkar pada leher pria
bernama Kim Jongin – pria dengan jaket kulit berwarna hitam itu.
Melihat pria yang baru saja datang ini membuat Ariana Grande – gadis berambut blonde itu tampak tidak senang dengan kedatangannya.
"Kau darimana saja, Taemin? Kau tak kelihatan tiga hari ini," tanya Jongin pada sahabatnya itu – ia baru membuka suaranya.
Taemin terkekeh. "Kenapa? Apa kau merindukanku?" Ia tidak menjawab tapi kembali bertanya.
"Tsk!" Jongin berdecak kesal. Lee Taemin! Beruntung kau adalah sahabatku, jika tidak kubunuh kau! umpat Jongin dalam hati. Sedangkan Ariana tampak memutar bola matanya, kesal.
Taemin terkekeh, lagi.
"Kau tidak perlu menatapku dengan tatapan seperti itu Ariana," katanya
saat matanya tengah beralih pada manik mata Ariana yang menatapnya
dengan gusar.
"Aku tidak memandangimu Tuan Lee!" sangkalnya dengan nada tekanan suara meninggi pada dua kata terakhir.
Taemin mendengus.
"Baiklah jika tidak!" Tampak senyum sinis dari kedua wajah yang saling
menatap – Taemin dan Ariana. Bagi Taemin, Ariana adalah seorang gadis
yang tak lebih dari seorang gadis penggoda. Sedangkan bagi Ariana,
Taemin adalah dinding antara hubungannya dengan Kim Jongin – kekasih
yang sebenarnya hanyalah errr... patner seks.
"Bisakah kalian berdua
hentikan pertengkaran bayi kalian?" tanya Jongin dengan suara yang
terdengar sudah cukup gusar mendengar pertengkaran antara dua insan yang
seperti bayi pada usia mereka yang sudah beranjak dewasa.
Taemin berdehem dan
sedikit terkekeh sambil melepaskan rangkulannya dari tubuh Jongin.
Sementara Ariana tampak meneguk secangkir Hot Chocolate miliknya.
Beberapa menit berlalu
dengan perbincangan hanya antara dua pemuda tampan itu dalam bahasa
Korea. Sementara Ariana yang sama sekali tidak begitu memahami bahasa
Korea, tengah mencicipi Chocolate cake dengan cake fork
sembari menggesek-gesekkan salah satu kakinya naik turun, menjelajahi
tiap inci kaki Kim Jongin dari balik celana levis yang ia gunakan dari
bawah meja. Sial! Kim Jongin mulai merasakan sengatan listrik pada
tubuhnya. Membuatnya beberapa kali tergagap saat bicara dengan Taemin,
beberapa kali berdehem, dan beberapa kali tampak sulit mengontrol hasrat
kelaki-lakiannya. Sial! Kalau begini, selangkangannya meronta dan
meminta pelepasan segera. Ariana yang menyadari hal itu tidak
menghentikan aktivitas kakinya malah semakin menjadi-jadi sambil
tersenyum nakal menatap Jongin – sesekali mencicipi kembali cake atau Hot chocolate sambil tersenyum lagi penuh kemenangan pada wajahnya.
"Oh shit! Kalau kalian sudah horny, segeralah cari kamar untuk melakukannya!" gerutu Taemin yang baru sadar tingkah dua insan yang sedang bersamanya ini.
"Ehem!" Jongin berdehem.
"Tsk!" Ariana berdecak kesal.
Good job Taemin!
Kau menambah bara api yang lebih siap memanggangmu sekarang juga. Untuk
kesekian kalinya, Taemin mengganggu kesenanganya lagi. Tapi—Hm, kali ini
Taemin menyuruh mereka mencari kamar untuk melakukannya bukan mencoba
mengganggu. Cukuplah untuk menebus dosa biang penganggu yang melekat
pada dirinya, menurut Ariana. Apakah Taemin sudah menyerah untuk
menghalang-halangi hubungan keduanya? Entahlah... Hanya Taemin dan Tuhan
yang tahu.
"Kalau begitu
menyingkirlah dari sini agar kami bisa segera pergi mencari kamar," kata
Ariana – lebih tepat kalimat ini adalah sindiran untuk Taemin agar
segeralah menyingkir dari hadapannya.
"Kau tidak perlu menyuruhku! Aku tahu pikiranmu Nona Grande," ucap Taemin dengan menekankan pada kalimat terakhir.
"Bagus kalau kau tahu!
Akhirnya kau punya indra kepekaan juga!" ledek Ariana. Tunggu... Indra
kepekaan? Sejak kapan manusia punya enam indra selain lima indra yang
diciptakan Sang Maha Pencipta? Hanya Ariana Grande yang mengkategorikan
manusia – errr.. tepatnya Taemin, mempunyai enam indra.
"Sudah cukup!" tegur
Jongin setelah memutar bola matanya, kesal. "Kalian itu sudah dewasa.
Masih saja terus bertengkar? Kalian tak lebih dari anak usia sekolah
dasar yang sedang memperebutkan mainan," gerutu Jongin yang tampak sudah
sangat jengkel mendengar pertengkaran yang tak kunjung berakhir itu.
Membuat keduanya terdiam.
=_oOo_=
Jakarta, Indonesia
Malam harinya.
Rumah kediaman keluarga
Agung Setiadi tampak tenang tak seperti malam-malam kemarin dimana
Cherlyn mencoba membunuh dirinya sendiri sehingga suasana tampak tegang
saat itu. Namun kali ini Cherlyn tampak tenang.
"Minho, kau kah itu?" tanya Cherlyn setelah mengerjapkan beberapa kali matanya menatap sosok pria dengan T-shirt abu-abu leher V, yang tengah berdiri di tepian tempat tidur miliknya dengan kedua tangan dilipat di bawah dada.
"Hmm... Cher. Ini aku,
Minho." Pria itu langsung mengambil tempat duduk di tepi tempat tidur
Cherlyn – gadis berambut coklat legam.
"Ternyata benar-benar kau." Cherlyn langsung bangun dan memeluk tubuh Minho yang tentu saja dibalas olehnya.
"Maafkan aku baru datang
menemuimu. Maafkan aku terlambat datang," gumam Minho pelan sambil
membelai rambut panjang yang terurai itu.
Cherlyn menggeleng masih
dalam pelukan Minho. Butiran airmata yang seolah terkurung sekian
lamanya langsung mengguyur deras seperti hujan, membahasi kedua pipinya.
"Reza, No... Reza...,"
ucap lirih Cherlyn masih dengan posisi yang sama. – No adalah penggalan
dari nama kecil Choi Minho, yakni Ino. Nama yang diberikan oleh Cherlyn
sewaktu mereka kecil. Meski usia mereka terpaut tiga tahun, namun
Cherlyn tidak pernah memanggil Minho dengan sebutan kakak.
"Ya, aku tahu. Makanya
aku minta maaf aku datang terlambat menemuimu. Maafkan aku Cher. Aku
akan segera membawamu pergi dari sini," kata Minho sambil kembali
membelai rambut coklat legam milik Cherlyn.
"Benarkah?" tanya Cherlyn sambil melepaskan pelukan mereka.
Minho manggut-manggut. "Iya, kita akan pergi jauh dari sini." Ia menangkup wajah gadis itu dan menghapus airmata dari wajahnya.
"Hmm..." Giliran Cherlyn manggut-manggut.
=_oOo_=
"Minho, bagaimana? Apa
Cherlyn sudah mau makan?" tanya Evellyn pada pria yang tengah berjalan
menuruni tangga dari lantai dua, dengan tatapan khawatir. Karena hampir
beberapa hari ini, Cherlyn selalu menolak memasukkan sesuap nasi kedalam
mulutnya.
Minho tersenyum lebar sambil menunjukkan nampan dengan isi piring yang sudah kosong. Membuat Evellyn menghela napas lega.
"Sykurlah," ujar Evellyn
senang. "Untungnya kamu ada disini Minho. Jika tidak ada kamu, tante
tidak tahu apa yang harus tante lakukan. Om Agus sedang berada di
California mengurus cabang perusahaan disana. Bahkan Linda saja hampir
menyerah menangani depresi Cherlyn. Ah—Dia bukan dokter ahli jiwa
sepertimu, wajar saja dia menyerah dan menyuruh tante menghubungimu."
Evellyn baru mengingat kalau dokter Linda Setiadi atau yang lebih
dikenal sekarang sebagai Linda Cahyadi, istri dari Pram Cahyadi –
direktur manajemen dan perencanaan Agung Setiadi Group bukanlah dokter ahli jiwa tapi dokter umum.
"Tante Linda bagaimana kabarnya, tante?" tanya Minho sambil meletakkan nampan diatas pantry yang langsung ditangani pelayan rumah untuk mencuci piring kotor.
"Dia dalam perjalanan
kemari. Katanya sudah lama tidak menemuimu. Jadi sepulang dari rumah
sakit, dia akan langsung menuju kemari," jawab Evellyn.
Piiph... Piiph... Suara klakson mobil terdengar memasuki pelataran rumah besar bergaya modern-klasik milik keluarga Agung Setiadi.
"Nah itu dia sudah datang," ucap Evellyn sembari meletakkan gelas kopi miliknya diatas pantry dan menuju pintu depan menjemput sahabat sekaligus adik iparnya itu. Diikuti oleh Minho dari belakang.
"Choi Minho!" seru Linda
dengan girangnya sembari mempercepat langkah kakinya mendapati pria
bertubuh tinggi yang menunggunya di depan pintu masuk rumah.
"Tante Linda... Long time no see you aunty,"
ucap Minho tak kalah girangnya menemui Linda – dokter pertama yang
menjadi panutannya untuk merawat orang sakit. Meski pada akhirnya, ia
lebih tertarik menekuni dunia kejiwaan.
Hampir sejam mereka
bertiga duduk mengobrol banyak hal. Mulai dari mengingat masa kecil
Minho dan Cherlyn sampai membuka kembali beberapa kumpulan album lama
dimana ada banyak foto kebersamaan Minho dengan Cherlyn sampai mereka
usia 8 tahun dan mengharuskan Minho kembali pindah ke Korea Selatan
bersama kedua orang tuanya.
Drrrt... Drrrt... Drrrt... Bunyi getar handphone milik Minho.
Tertera pada layar handphone: Direktur – Seo In Gook.
"Halo," sapa Minho
setelah memisahkan diri dari dua wanita paruh baya yang tengah duduk
memperhatikan foto-foto di album lama sembari tertawa.
"Kau masih di Indonesia?" tanya Seo In Gook dari seberang telepon.
"Ya, masih. Ada apa?" Kini Minho yang kembali bertanya.
"Kapan kau kembali?" Seo In Gook bertanya, lagi.
"Besok," jawab Minho singkat.
Seo In Gook tampak
menghela napas diujung sana. "Kau bisa membantuku? Kumohon Choi Minho.
Aku adalah sahabatmu, jadi tolong bantulah aku," pinta In Gook.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Minho.
Meski dengan sangat
terpaksa dan sedikit berberat hati, Minho akhirnya menyetujui permintaan
sahabatnya itu. Ia tahu itu pilihan yang sulit untuk ia buat, tapi demi
rumah sakit yang dibangun dengan susah payah oleh almarhumah ayahnya,
ia harus melakukan itu.
Diruang tengah.
"Apa?!" pekik Evellyn
tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Minho. Tidak hanya Evellyn
tapi Linda pun bahkan tak percaya mendengar penuturan keponakan mereka.
"Kau tahu Minho, kau tidak bisa melakukan itu!" tegas Linda. Dan Evellyn menyetujui hal itu.
"Minho, dengan
membawanya kesana justru akan menambah luka baru baginya. Kau tidak tahu
itu?" tanya Evellyn. "Tante rasa kau cukup tahu karena kau adalah ahli
jiwa."
"Karena aku tahu tante,
jadi aku akan mulai mencoba menyembuhkannya dari kenangan dimana
waktunya berhenti. Tempat dimana orang itu meregang nyawa," ungkap
Minho. Membuat Evellyn dan Linda mendesah lalu saling menatap dengan
khawatir.
"I am her physician. I know what should I do to get her better soon," ucap Minho – fasih dalam bahasa Inggris.
"Oh Minho... Tante—Entahlah apa yang harus tante katakan," tutur Evellyn lirih seolah hampir pasrah dengan keadaan.
"Tante Eve, just trust me please! Aku akan menyembuhkannya mulai dari situ," ucap Minho penuh keyakinan.
Evellyn mulai menangis. Dari lubuk hatinya, ia tidak ingin melepaskan Cherlyn menjalani pengobatan disana meski sementara saja.
Minho menghela napas.
"Tante tahu ini juga pilihan yang sulit untukku. Satu sisi aku tak ingin
dia kesana. Kalau aku ingin membawanya keujung dunia sekalipun, aku
akan membawanya kesana tapi tidak dengan tempat itu. Hanya saja sisi
yang lain adalah pertemuan kepala rumah sakit itu sangat penting untuk
satu-satunya kenangan ayah yang tersisa. Tante tahu masa-masa sulit
kami. Aku harap tante mengerti selain untuk menyembuhkan dia dari sana,
aku juga akan menyelamatkan rumah sakit yang ayah bangun dengan
perjuangannya sampai ia meninggal," ungkap Minho. Ia berjongkok dan
menatap sendu manik mata wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa
sembari menitihkan airmata dari kelopak matanya. Ini juga keputusan
sulit, bantinnya.
_____
September 13rd, 2015
[Halo readers akhirnya chapter 2 hadir. Well, Tell me how it going!
VOMENTS please] Ingat 500-700juta kalo PLAGIAT!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar