Apa kau percaya cinta pada pandangan pertama?
Aku percaya,
karena aku sendiri yang mengalaminya.
Aku menyukai seseorang sejak pertama kali aku bertemu dengannya.
Saat itu umurku masih beranjak remaja.
Dia teman sekelasku.
Aku pernah cerita sama mama.
Kata mama, itu hanya cinta monyet.
Cinta monyet? Sigh..
Bagaimana bisa seorang lelaki seperti dia membuatku yang sudah menjalin hubungan beberapa kali dengan para lelaki lain tapi masih mencintainya?
Apa yang dia lakukan padaku?
Dia sangat brengsek!
Kadang dia bertingkah sebagai sahabat, sebagai musuh TAPI kadang dia bertingkah seolah aku adalah wanita-nya dan kadang kami seperti tak saling mengenal!
Ingin sekali aku memukul wajahnya
yang brengsek memporak-porandakan hatiku!
©Eva Maria - September 1st, 2015
Aku percaya,
karena aku sendiri yang mengalaminya.
Aku menyukai seseorang sejak pertama kali aku bertemu dengannya.
Saat itu umurku masih beranjak remaja.
Dia teman sekelasku.
Aku pernah cerita sama mama.
Kata mama, itu hanya cinta monyet.
Cinta monyet? Sigh..
Bagaimana bisa seorang lelaki seperti dia membuatku yang sudah menjalin hubungan beberapa kali dengan para lelaki lain tapi masih mencintainya?
Apa yang dia lakukan padaku?
Dia sangat brengsek!
Kadang dia bertingkah sebagai sahabat, sebagai musuh TAPI kadang dia bertingkah seolah aku adalah wanita-nya dan kadang kami seperti tak saling mengenal!
Ingin sekali aku memukul wajahnya
yang brengsek memporak-porandakan hatiku!
©Eva Maria - September 1st, 2015
LOVE AT FIRST SIGHT
Hari yang cerah. Langit
yang biru tanpa setitik noda pun menyertainya. Terik matahari yang
menyengat kulit. Membuat kulit jadi memerah. Beruntunglah Sang Maha
Pencipta menciptakan angin yang berhembus sepoi-sepoi.
Hari itu adalah hari
pertama dilakukan pendaftaran bagi semua siswi-siswi SMA Pelita Bangsa
Jakarta. Semua pelajar tamatan SMP berbondong-bondong menuju gedung
sekolah berlantai dua yang tampak besar. Mereka berjalan menyusuri
pelataran gedung sekolah.
Tak ketinggalan Pevita Cyntia.
Seorang gadis cantik
bertubuh tinggi semampai. Rambutnya pendek sebahu diuraikan. Matanya
bulat besar, iris matanya berwarna hitam dihiasi bulu mata yang lentik.
Hidungnya tinggi nan mancung. Bibir tidak terlalu kecil, tidak juga
lebar -- sedang, tipis pada atasan bibir dan agak tebal pada bagian
bawah. Bibir yang seksi untuk kalangan pria yang menjadi pengagumnya.
Ditambah lagi ada lesung pipi pada bagian kanan yang tampak jelas saat
dia tersenyum. Kulitnya berwarna kuning langsat.
Sungguh dia sosok wanita idaman para lelaki yang sedari tadi tak mengedipkan mata mereka saat dia melewati mereka.
Sungguh dia sosok wanita idaman para lelaki yang sedari tadi tak mengedipkan mata mereka saat dia melewati mereka.
Oh tidak hanya para
lelaki itu. Tapi ada beberapa sekelompok anak berseragam SMP yang juga
sedang menatapnya dengan tatapan sinis dan berbisik-bisik.
"Vita!" seru seorang
gadis cantik dari depan gedung sekolah -- yang sedari tadi menunggu
mereka. Pevita dan Michelle -- dua gadis berseragam SMP yang memandang
kearah sumber suara dengan tersenyum.
"Hey!" seru Michelle begitu tiba didepan Karnia. "Maaf kami terlambat. Sudah mendaftar?" tanya Michelle.
Karnia menggeleng dan
menatap Pevita yang sedang menatap kearah sekelompok anak yang sedang
duduk dibawah patung batu pendiri SMA Pelita Bangsa.
"Hey santai sajalah
Vit," ucap Karnia yang seolah mengerti kenapa mereka memandangi Pevita
dan kenapa pula Pevita ikut berbalik memandangi mereka.
"Mereka teman-teman satu sekolahku," bisik Karnia pelan.
Namun Michelle
sepertinya tidak memperhatikan gerak-gerik kedua temannya ini, karena
dia sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Apalagi kalau bukan benda mati
bernama handphone? Ya benda itu sepertinya telah merasuki Michelle sedari tadi sehingga dia tengah sibuk mengotak-atik handphone miliknya.
"Mereka tak ada bosannya memperhatikanku!" sungut Pevita.
"Mereka sudah biasa
seperti itu. Mereka juga tidak terlalu dekat denganku. Mereka itu
keturunan Tiong Hoa, sedangkan aku apa? Cuma gadis biasa," umpat Karnia
sambil mengedikkan bahunya seolah tak terlalu peduli dengan sikap yang
mereka tujukan sekarang untuk Pevita -- karena sudah menjadi hal yang
biasa bagi Karnia yang satu sekolah dengan mereka.
Sedangkan Pevita dan Michelle satu sekolah. Mereka bertiga berteman sejak duduk dibangku sekolah dasar.
"Jadi ini diskriminasi?" tanya Pevita sambil memutar bola matanya, kesal.
Karnia mengedikkan bahu, lagi. "Seperti itulah."
"Sialan!" maki Pevita dengan nada suara pelan sambil menyikut Michelle yang baru tersadar keberadaan dua temannya itu.
"Apa?" tanya Michelle.
Aduh, Michelle.. Kamu
menggemaskan. Dua temanmu sedang ber-panas hati dengan tatapan sinis
sekelompok anak berkulit putih dan kau bahkan tak menyadarinya? Oh Tuhan
tolong turunkan Roh Kudus yang memberikan penglihatan dan ke-peka-an
yang baik untuk Michelle -- gadis berambut panjang se-dada ini.
"Lihat sesama kulitmu," gumam Pevita dengan nada meledek.
Michelle menolehkan
kepalanya menatap mereka dan mengumpat kesal dalam hati. Dia tahu betul
Pevita sengaja melakukan ini padanya karena dia secara garis besar
adalah keturunan Tiong Hoa juga. Kulitnya putih sama seperti mereka yang
masih menatap kearah Pevita-Michelle-Karnia dengan tatapan yang sama.
"Sialan kamu Vit!" maki
Michelle dengan melototkan matanya pada Pevita yang tengah tertawa
bersama Karnia menyadari betapa marah sekaligus lucunya Michelle.
"Sorry," ujar Pevita sambil bersama Karnia menunjukkan sisi keimutan mereka dengan winked dan kedua jari peace yang melekat disisi yang sama dengan mata mereka yang tengah winked.
Karnia terkekeh kecil.
"Sudahlah. Ayo masuk kita mendaftar dulu setelah itu aku kenalkan dengan
beberapa teman baru." Ya, Karnia selalu seperti itu. Mudah bergaul dan
punya banyak teman baru. Beruntung punya teman seperti Karnia.
"Eh, tunggu!" seru Pevita sambil menarik tangan Karnia hingga dia dan Michelle menatap Pevita.
Pevita tengah menatap
kembali mereka, dan baru menyadari ada sosok pria disana -- ditengah
sekelompok gadis yang telah mengalihkan pandangan dari mereka.
"Siapa itu?" tanya Pevita.
Karnia dan Michelle saling bertatapan dan mengangkat alis.
"Kenapa Vit?" tanya Michelle.
"Itu.. Pria itu. Siapa dia?" tanya Pevita.
Michelle menatap kearah sekelompok anak yang dimaksud, sedang Karnia hanya tersenyum.
"Oh.. Itu Rezky," ungkap Karnia.
"Rezky?" Pevita menyebut kembali nama itu.
"Hm.. Rezky
Anggunmulia," gumam Karnia pelan -- seolah takut suaranya terdengar oleh
sekelompok anak itu atau gerakan mulutnya terbaca oleh mereka.
Pevita tersenyum lebar.
Menampilkan lesung pipi yang melengkung indah pada pipinya. Pipinya
merah merona. Oh, jangan bilang Pevita jatuh cinta. Jangan.. Jangan
Pevita. Kamu kesini itu untuk sekolah bukan untuk pacaran, catat itu
diotak kamu!
"Hey.. Halo.. Disini
masih ada orang!" seru Michelle yang mulai jengkel melihat Pevita dan
Karnia memperbincangkan sekelompok anak Tiong Hoa itu kembali. Entah
kenapa dia tidak menyukai ada diskriminasi kulit yang tampak jelas pada
tatapan anak-anak itu.
"Ya.. Ya.. Ya.. Ayo Vit!" ajak Karnia sambil menarik tangan Pevita pergi.
***
Berkat bantuan Karnia,
Pevita dan Michelle punya banyak teman baru disekolah ini. Mereka duduk
dan bercerita hal-hal yang pernah mereka lakukan saat mereka masih SMP.
"Hey Vit.. Ada yang
ingin kenalan denganmu," kata Reini -- salah satu teman baru mereka,
sambil duduk disamping Pevita ditempat duduk kantin sekolah.
"Benarkah?" tanya Pevita sambil menatap Karnia dan Michelle yang melakukan hal yang sama.
"Siapa?" tanya Karnia penasaran.
"Itu mereka," kata Reini
sambil menunjuk kearah sekelompok anak yang sedang duduk tak jauh dari
mereka. Sekelompok anak yang tadi.
"Hah? Mereka?" tanya Michelle tak percaya. Sedangkan Reine hanya mengangguk.
Karnia terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Tidak mungkin. Kau pasti bercanda. Mereka mana mung-"
"Hey!" seru Reine sambil
melambai kepada sekelompok anak yang tengah menatap kearah meja duduk
mereka sambil tersenyum penuh maksud -- memotong pembicaraan tak percaya
yang dilontarkan Karnia.
"Nah tuh kan.. Apa
kubilang!" sungut Reini, lalu menjulurkan lidahnya kepada Karnia yang
mengedipkan mata kuat-kuat seolah ingin memastikan ini bukan mimpi.
"Ayo kita kenal-" Belum
sempat Michelle mengungkapkan rasa antusiasnya ingin berkenalan dengan
mereka, sekelompok anak itu sudah berada dibelakang Pevita.
"Hey," sapa salah
seorang gadis diantara mereka. Dia bertubuh tinggi, namun Pevita baru
menyadari dia adalah salah satu diantara sekelompok anak Tiong Hoa ini
yang satu-satunya mempunyai kulit sawo matang. Berbeda dengan yang lain.
"Hey!" sapa Michelle yang langsung memotong jabatan tangan gadis itu kearah Pevita yang masih tampak bingung.
Satu per satu dari mereka berkenalan. Hingga akhirnya tatapan dan jabat tangan Pevita dan lelaki bernama Rezky ini bertemu.
"Hey," ucap Rezky sambil
tersenyum sehingga menampilkan senyum indah dibibir tipisnya yang
membuat Pevita yang tengah membalas jabat tangan itu seperti tersengat
listrik bertekanan tinggi. Beruntung wajahnya tidak melepuh karena
sengatan itu tapi hanya membuatnya merona.
"Aku Rezky." Lelaki bertubuh tinggi -- lebih tinggi dari Pevita memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
Oh Tuhan Pevita.. Tolong
balas dia dan katakan namamu. Jangan merona disaat seperti ini! Apakah
segitunya kamu didepan lelaki? Dasar jomblo abadi! Terlalu lama sibuk
menjadi kutu buku sih. Rolling eyes.
"Pe-vi-ta," ucap Pevita dengan gagap. Aduh! Jangan gugup sampai harus gagap begitu please. Kamu membuat beberapa pasang mata mengawasi kalian.
"Ehem." Fiolla --
keturunan Tiong Hoa yang kulitnya sendiri yang tampak lain dari yang
lain tadi berdehem. Sehingga menyadarkan Pevita dan Rezky kalau mereka
sudah bersalaman cukup lama.
"Hey, namaku Fiolla. Kau bisa memanggilku Fio," ucap Fiolla sambil memperkenalkan dirinya pada Pevita.
"Pevita Cyntia. Panggil aku Vita saja," kata Pevita sambil membalas jabat tangan dari Fiolla.
***
Pembagian kelas tengah
dimulai. Pevita, Karnia, Fiolla, dan Rezky serta beberapa teman lain
berada pada kelas yang sama sesuai peringkat pada hasil ujian saringan
masuk SMA Pelita Bangsa.
Sepertinya Tuhan cukup adil mendengarkan doa Pevita yang ingin sekelas bersama Rezky. Tuhan mengabulkannya.
"Vita, duduk bersamaku!"
seru Fiolla yang sudah lebih dahulu menarik tangan Pevita. Tampak jelas
sorot mata kecewa dari mata Karnia yang ingin duduk bersama sahabatnya
itu, tapi akhirnya mengalah dan tersenyum menatap Pevita yang sudah
menyadari arti dari sorot mata penuh kekecewaan itu.
"Ya, baiklah." Pevita
mengiyakan permintaan Fiolla untuk duduk bersamanya setelah mendapatkan
senyum lebar diwajah Karnia yang menyetujui hal itu dan mengambil tempat
disamping tempat duduk mereka.
***
Pelajaran hari pertama
pun dimulai. Banyak senior pria di sekolah yang sering sengaja melewati
koridor depan kelas 10-1 tempat Pevita berada. Bahkan ada beberapa yang
memanggil nama Pevita -- seolah Pevita itu sebuah candu yang ingin terus
dipanggil mereka.
Apakah Pevita memang
se-cantik itu? Tidak, menurut Pevita masih ada teman-temannya yang lain,
yang lebih cantik darinya. Hanya saja para senior itu yang gila!
Pevita beberapa kali
mengumpat tak jelas dalam hati saat ada senior pria yang menampakkan
diri lewat jendela demi menggoda dirinya. Pevita akui senior-seniornya
itu memang tampan. Tapi tak adakah cara yang lebih baik untuk
mengajaknya berkenalan daripada harus menggodanya lewat jendela? Itu
tidak sopan.
Pevita hampir muak
dengan keadaan ini. Untung saja tempat duduk Rezky berada di jajar yang
sama dengan Karnia, tepat didepan Karnia sehingga membuat mata Pevita
selalu terasa bersih dari udara kotor disekitarnya saat memandangi wajah
Rezky yang tengah bercerita dengan teman-teman lelakinya.
Beberapa kali Rezky
sepertinya menangkap sosok mata yang sedang melihat kearahnya. Sehingga
mata Rezky kembali memandangi sosok itu. Namun dasarnya Pevita pemalu,
dia malah mengarahkan tatapannya ke kaca jendela tempat ada salah
seorang senior tengah menggodanya.
Pipinya merona. Tidak!
Bukan merona karena godaan senior itu. Tapi merona karena menyadari
tatapan Rezky. Beruntung tatapan itu tidak lama karena ada bunyi bel
tanda pelajaran akan segera dimulai berbunyi. Semua siswa diluar kelas
berhamburan masuk kedalam kelasnya masing-masing.
"Anak-anak," sapa ibu wali kelas -- Ibu Yetty, saat masuk kekelas 10-1.
"Beri hormat!" seru Pevita. Ya, sejak mereka resmi masuk di sekolah ini, Pevita dipilih menjadi wakil ketua kelas 10-1.
"Selamat pagi bu," sapa siswa-siswi kelas 10-1 serempak.
Ibu Yetty tersenyum dan memberi tanda kepada seseorang diluar untuk segera masuk ke kelas 10-1 ini.
Tampak dari arah luar
kelas, seorang lelaki berseragam SMA -- putih abu-abu, masuk dengan
langkah tegap ke dalam kelas sehingga berdiri ditengah-tengah kelas,
disamping Ibu Yetty yang merangkulnya dari bahu.
"Anak-anak, ini siswa
baru yang akan berada di kelas ini juga," ungkap Ibu Yetty, "Ayo
perkenalkan dirimu," kata Ibu Yetty sambil melepaskan rangkulannya.
"Halo semua!" sapa siswa
baru itu. "Namaku Daniel Alberth. Tapi sering dipanggil Gino. Aku siswa
pindahan dari Bali. Aku harap kita bisa berteman dengan baik."
Mata Rezky menatap
Pevita yang tampak tersenyum menatap lurus kearah sosok lelaki bernama
Gino itu. Pevita menyadari tatapan itu dan kembali menatap Rezky penuh
tanda tanya.
Terdengar kelas mulai
riuh dengan sorak-sorakan para gadis disini. Melihat siswa baru yang
sangat tampan berada dikelas mereka. Tubuhnya tinggi, badannya tegap.
Senyumnya terasa begitu menyengat para gadis di ruang kelas ini yang tak
berhenti bersorak kegirangan dan merona melihat siswa baru ini.
Huh, dasar anak baru gede! Mata mereka tak pernah suci jika melihat sosok lelaki yang begitu panas didepan mereka. Rolling eyes.
Oh Tuhan tapi sumpah demi apapun. Wajah itu sangat tampan. Seriously! Baby face.
Mata semua gadis didalam
kelas menatap Gino dengan tatapan dan senyuman penuh arti. Kecuali
Karnia yang dasarnya adalah kutu buku sama seperti Pevita, dan punya
sikap yang cuek terhadap lelaki manapun -- tidak begitu peduli dengan
keberadaan Gino.
Mata Pevita tak berhenti
berkedip menatap sosok Gino yang tengah duduk disamping Rezky.
Kebetulan Rezky mengambil tempat duduk didepan yang notabene-nya takan
pernah diduduki siswa berjenis kelamin lelaki yang lebih suka duduk
dibelakang atau dipojokkan kelas. Tidak seperti Rezky.
Oh demi apapun yang
berbau indah. Pemandangan dua lelaki yang sama-sama tampan terlalu
membahagiakan hati Pevita. Dia masih ingin menikmati keindahan itu.
Apalagi saat melihat Rezky tersenyum lebar saat saling berkenalan secara
dekat dengan Gino. Uh.
------
September 1st, 2015
September 1st, 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar